Rabu, 06 Juli 2016
keraton mangkunegaran
Selasa, 05 Juli 2016
Perth, Western Australia
What can we learn from them, is an appreciation. Yes, a proud of historical review... some old historical buildings are very well maintained and tell visitors: "Ini lho kami di masa lalu, kami bangga akan masa lalu kami, makanya kami pelihara. Kami tidak meruntuhkan bangunanba gunan lama lalu menggantikannya dengan MALL atau RUKO.... he...he...he...."
An oceanology museum, where you are reminded about west Australian Ocean history in previous century
Fremantle... kampung nelayan penghasil ikan, dan sekaligus sebagai destinasi wisata. Ada persamaannya dengan kampung nelayan Belawan-Indonesia; yaity sama-sama kampung nelayan dan penghasil ikan. Perbedaannya...? Lokasinya tertata sebagai one stop visit yang dilengkapi dengan berbagai spot menyenangkan like: crouching, fishing, shopping merchandise specific laut, kuliner seafood, etc.
Minggu, 04 Oktober 2015
Mari Menulis

Menulis
sebagai kegiatan akademik (academic
writing) merupakan suatu kewajiban bagi mahasiswa, khususnya dalam rangka penyajian hasil riset berupa karya tulis ilmiah. Buku
ajar ini lebih ditujukan untuk membekali mahasiswa program diploma dan atau
bagi pemula pada ajang penulisan karya ilmiah, serta pengguna lain yang
membutuhkannya sebagai rujukan. Disamping bimbingan
penulisan dari sisi substansi suatu karya tulis ilmiah, buku ini juga membekali
pemakainya dalam penggunaan bahasa Indonesia standar sebagaimana tuntutan penulisan
teks resmi dalam format ilmiah, agar tidak mengabaikan kaidah-kaidah bahasa
Indonesia yang baik dan benar.
USU Press
Art Design, Publishing & Printing Gedung F
Jl. Universitas No. 9 Kampus USU
Medan, Indonesia
© USU Press 2014
Hak cipta dilindungi oleh
undang-undang; dilarang memperbanyak, menyalin, merekam seluruh bagian buku ini
dalam bahasa atau bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.
ISBN 979 458
Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Tata Tulis Laporan / Pantas Simanjuntak – Medan: USU Press, 2014.
e-mail: s_pantas@yahoo.co.id
Pembelajaran
Modern melalui Peer-Group
Buku
Ajar Tata Tulis Laporan disusun dengan berorientasi kepada sasaran belajar yang
telah dirumuskan pada setiap topik bahan ajar. Keseluruhan materi dalam buku ajar ini sebaiknya dijadwalkan seefektip
mungkin, dimana setiap topik dapat diselesaikan tepat waktu. Selain ketepatan
waktu, hal yang tidak kalah pentingnya adalah optimalisasi pencapaian sasaran
belajar yang telah digariskan pada bagian awal dari setiap topik.
Setiap
pembelajar harus meyakinkan bahwa pada setiap akhir pembahasan topik, dapat
mencapai sasaran yang digariskan. Hal
ini akan dievaluasi pada setiap akhir topik untuk mengetahui capaian pembelajaran.
Pembahasan
materi disarankan dengan pengantar materi yang kemudian diikuti dengan
keterlibatan mahasiswa dalam kelompok belajar (peer group) melalui brain-storming,
Tanya jawab, diskusi kelompok, studi kasus, maupun observasi, untuk menciptakan
atmosfir belajar berupa Student Oriented atau Student Active Learning. Ketua kelompok
berperan sebagai motivator, director,
untuk pemecahan masalah pada saat mahasiswa menemukan permasalahan. 

Pada
bagian akhir dari setiap topik, diadakan evaluasi untuk mengukur penguasaan pembelajar
atas materi yang telah dibahas. Media evaluasi diacu dari sasaran pembelajaran
(performance indicator) pada
masing-masing bab. Namun yang pasti adalah bahwa evaluasi yang dilaksanakan
harus berfungsi sebagai “alat ukur”; apakah performa yang telah ditetapkan pada
bagian awal setiap topik; yaitu sasaran
belajar telah tercapai.
Dengan
penggunaan buku ajar ini secara tepat dan konsisten sesuai petunjuk dan alur
materi, maka diharapkan bahan ini dapat membantu pencapaian sasaran yang telah
digariskan.
Tidung diantara pelau seribu
...Pulau indah permai, laju prahu laju...
Laju menuju ke Pulau seribuuuu.....
Ayo kawan semua pergi kesana
Pulau sribu nan indah permai........sungguh indah......
Itulah penggalan lagu lama yang menggambarkan kekaguman atas keindahan ribuan pulau di rangkaian pulau seribu di utara Jakarta. Semilir angin menyejukkan dengan bebas menerpa wajah para penumpang kapal kayu yang bertolak dari Muara Angke, Jakarta Utara. Kapal berkapasitas 100 penumpang plus barang-barang itu melaju membelah lautan biru dengan kecepatan sedang menggoda mata untuk mengantuk. Namun keindahan pemandangan lepas samudra menguatkan mata untuk tidak takluk dengan buaian angin sejuk dan kehangatan sinar mentari pagi.
Selama dua setengah jam berlaya. yah... berlayar dan merakyat, maka sampailah para penumpang dan para backpacker di salah satu pulau; Pulau Tidung.
What Inside Tidung Island...???
Tentu banyak hal-hal baru yang dapat ditemui di pulaui ini. Konon nam pulau ini diambil dari nama salah satu suku di Kalimantan, yaitu suku Tidung yang pada zaman dahulu eksodus ke utara Jakarta, lalu bermukim di salah satu pulau di kepulauan seribu, yakni pulau Tidung. Now let's see what inside.
Beautiful Beach
Beautiful beach with smooth white sand and very soft enough to step on. sejauh mata memandang terpampang laut biru dengan hiasan pulau-pulau hijau yang menyegarkan mata dan pikiran. Wah... pokoknya segerrrr...rrr
Jumat, 18 September 2015
ber-GADGET-ria dengan CERDAS
Ber-GADGET-ria dengan CERDAS
Pantas Simanjuntak
Sie Pendidikan, Gereja Paroki
Santa Maria Ratu Rosari – Tj.Selamat
Media
Komunikasi Dahulu dan Sekarang
Alkisah
pada zaman dahulu kala, sekitar ribuan tahun yang lalu sebelum masehi, tepatnya
pada zaman Romawi kuno, seorang prajurit Yunani bernama Pheidippides diutus
dari kota Marathon, Yunani ke Athena
untuk mengumumkan suatu berita maha penting; bahwa bangsa Persia
telah dikalahkan pada Pertempuran Marathon. Jangan
membayangkan bahwa si kurir bertugas dengan menggunakan kendaraan seperti
sekarang ini, melainkan hanya dengan berlari. Yah, berlari. Dikisahkan bahwa si
prajurit berlari tanpa berhenti menempuh jarak ratusan kilometer antara Marathon-Athena
demi titah sang penguasa pada saat itu. Informasi penting akhirnya sampai juga di
tujuan; namun sesampainya di tujuan, si pembawa berita meninggal dunia karena
kelelahan. Dari sanalah lalu Marathon diabadikan sebagai nama
salah satu cabang atletik yang diperlombakan sebagaimana yang kita kenal
sekarang; lari marathon .
Itu
kisah ribuan tahun yang lalu. Masih ada kisah lain yang ada kaitannya dengan
penyampaian informasi atau berita. Yang ini bukan ribuan tahun lalu, tapi hanya
sekitar puluhan tahun yang lalu, sebelum adanya handphone, yaitu ketika seorang
mahasiswa kuliah di Medan, jauh dari orang tua, ketika itu setiap bulannya wajib
mengirim kabar tentang perkembangan perkuliahan kepada orang tua dan sekaligus permintaan
untuk dikirim biaya bulanan. Nah, yang disebut terakhir ini yang selalu menjadi
masalah akibat lambatnya penyampaian informasi. Bayangkan saja bahwa untuk
mengabari orang tua di kampung si mahasiswa harus mengirim surat dengan
perangko biasa dengan waktu tempuh seminggu paling cepat. Kemudian balasan
berupa wesel serta untuk meng-uang-kannya di kantor pos menempuh perjalanan
juga sekitar 1 minggu. Maka total penantian untuk urusan kelangsungan hidup di
pearntauan ini memakan waktu setengah bulan. Sudah keburu jadi ‘buronan’ ibu
kost dan warung tempat bayar makan karena telat bayar.
Bagi
generasi muda saat ini tentu sangat sulit membayangkan kedua kenyataan tersebut
di atas. (Berlari ratusan kilometer untuk menyampaikan informasi atau ngirim surat pakai perangko biasa) Mereka
akan terhenyak dan berkata: Woouuu..ya…??!!
koq bisssa ya…?? Kenapa nggak di SMS atau di e-mail aja? Apa nggak punya Blackberry Massengers?? Gitu aja koq repot amat?? Artinya sulit bagi mereka untuk memahami;
karena mereka membandingkannya dengan kondisi yang mereka alami masa kini yang
serba gampang, praktis, serba cepat, serba instan. Informasi seperti itu, dengan
jarak ribuan kilometerpun dapat disampaikan hanya dalam hitungan menit dan
hanya dengan menekankan ujung jari telunjuk pada tombol gadget.
Gadget
Nan Canggih
Untuk
berkomunikasi langsung kini dilakukan tidak hanya di dunia nyata lagi, akan
tetapi juga di dunia maya. Dan yang paling dominan adalah yang disebut
terakhir. Teknologi canggih sudah memfasilitasi semuanya nyaris tanpa batas dan
hambatan. Gadget dengan berbagai varian merek tersedia dimana-mana. Iklan
handphone bertubi-tubi tiada henti menawarkan berbagai tipe baru dengan
berbagai macam fitur muncul setiap hari di media massa. Hiruk-pikuk penawaran
berbagai jenis dan merek instrumen ini tentunya dilatarbelakangi oleh suatu
riset marketing yang memotret sifat konsumerisme kita. Gengsi sering diukur
dengan merek dan secanggih apa gadget yang dimiliki.
Akses
internet menampilkan beragam informasi, mulai dari yang biasa-biasa sampai
dengan yang rruaarrr biasa. Pokoknya
bak kata seorang teman, begitu anda mulai searching
di dunia maya, maka: “tak ada yang tidak ada…” Melabihi toko serba ada! Sebenarnya kita
pantas bersyukur dan berterimakasih kepada Alexander
Graham Bell (1847-1922) penemu dan pencipta alat komunikasi bernama Telepon Kabel yang kemudian
dikembangkan oleh orang-orang pintar
(tapi bukan dukun maksudnya lho);
dengan berinovasi tiada henti dan melahirkan media komunikasi dengan teknologi
canggih seperti adanya saat ini. Karena dengan itu semua kita mendapatkan
kemudahan-kemudahan bukan hanya dalam hal bekomunikasi semata, akan tetapi juga
membantu kita belajar, berprestasi, memperluas wawasan, memperluas jaringan
pertemanan, dan mempermudah “pencapaian tujuan”.
Namun
sebagaimana halnya dengan kecanggihan atau kemodernan dengan segala kelebihannya
yang membawa kebaikan bagi penggunanya, selalu ada implikasi negatip (atau hal
yang merugikan) menungganginya. Ekses negatif!. Kira-kira begitu ya? Sebagaimana
banyaknya manfaat bagus dari kehadiran gadget sebagai alat komunikasi, sebanyak
itu pula celah (penyalahgunaannya) menghasilkan keresahan. Bandar narkoba dari
balik jeruji besi dengan gampang mengendalikan transaksi. Demikian juga para …
(maaf, tak usah kita sebut profesinya di sini) melakukan e-transaction antar lawan jenis dengan gampang dan lancar. Para
pelajar dan mahasiswa (tapi sebagian kecil saja lho) memotret buku/catatan
kuliah dengan HP untuk dijadikan kopekan saat ujian, dan lain-lain dan
lain-lain.
Sudah
cukup banyak peristiwa memilukan, mengenaskan dan mengharukan yang terjadi
akhir-akhir ini yang berkaitan langsung dengan penggunaan alat komunikasi
canggih ini, yang pada akhirnya menimbulkan kecemasan bagi para orang tua terhadap
anak-anaknya. Akan tetapi ekses negatif dimaksud sebenarnya bukanlah disebabkan
oleh instrumen itu sendiri, melainkan disebabkan penyalahgunaan oleh
penggunanya. Sebagaimana dengan narkoba misalnya, selalu kita sebut dengan penyalahgunaan
narkoba. Bukan kesalahan narkoba! Gadget
and drugs never do wrong!
Sikap
Kita sebagai Orangtua
Saat
berjalan di suatu koridor bangunan, di mal, atau bahkan mungkin di sisi jalan
raya, pernahkah Bapak dan Ibu disenggol atau ditabrak oleh seorang remaja yang
lagi asyik memelototi layar handphone? Saya sering lho, di kampus. Jika bapak
dan Ibu memperhatikan kebiasaan remaja masa kini yang nyaris tidak pernah
terlepas dari handphone dan internet. Bahkan, mereka bilang I can’t survive withaout it. Wow…kita
tidak mampu menutupi kegundahgulanaan serta kehawatiran hati kita. Betapa
tidak! Melalui alat itu akses mereka terbuka keseluruh laman yang tidak
terbatas, yang berisikan hal-hal baik namun juga yang buruk, yang menabrak dan
menyenggol batas-batas yang dapat ditolelir menyangkut persoalan etika, budaya,
moral, dan sebagainya (tak ada yang tidak ada), menembus ruang dan waktu. “It can
convey information about matters far remove in space or time”
Kriminal
dan Tragedi
Data
statistik mengungkap bahwa ada sebanyak
60 juta pengguna media sosial di Indonesia yang rentan untuk dimanfaatkan
sebagai ladang penipuan atau tindakan kriminal lainnya. Seorang wanita korban
penipuan lewat We – Chat tak berbayar
baru-baru ini diwawancarai dalam suatu acara talk show mengalami kerugian puluhan juta rupiah. Penipu parlente
bermobil mewah menjalankan proses penipuan dengan mulus (white collar crime). Dan korbannya umumnya wanita. Pakar Psikology
Forensik (Reza Indragiri) mengungkapkan hasil suatu riset bahwa wanita memiliki
suggestibility yang tinggi. Yang berarti bahwa wanita sangat rentan menerima
suggesti. Maka sasaran penipuan lewat We-Chat
dan sejenisnya lebih sering adalah kaum wanita. Waspadalah…!!! Waspadalah….!!!
Peristiwa
tragis lainnya menimpa seorang mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Sumatera
Utara yang sangat pintar secara akademik (dengan index prestasi 4), meninggal
diduga dengan cara bunuh diri di dalam kamar kostnya di daerah padang bulan
baru-baru ini (18 Mei 2015). Yang mengusik perhatian kita setelah membaca
berita tragis tersebut di media massa adalah bahwa sebalum melakukan aksi
nekatnya, si korban diduga mempelajari
cara gantung diri serta teknik menggunakan tali pengikat leher dari internet.
Hal ini terbaca setelah polisi membuka ponsel canggih si korban. Sebuah tragedi…?
Lalu bagaimana kita menyikapi berbagai
fenomena di atas?
Banyak
tips-tips yang sudah disampaikan para pakar, juga psikolog. Antara lain melalui
monitoring, pendampingan, nasihat-nasihat, dan lain sebagainya. Termasuk
kegiatan seminar yang diselenggarakan oleh Seksi Pendidikan Gereja Paroki Santa
Maria Ratu Rosari, Tanjung Selamat, Medan pada 17 Mei 2015 yang lalu, bertajuk:
“BERPRESTASI DENGAN GADGET” adalah
salah satu upaya mencerdaskan kaum muda gereja dalam menyikapi kecanggihan
media komunikasi ini. Namun selalu ada celah, ada kesempatan yang tidak
terawasi. Hal itu disebabkan yang telah disebut tadi: sedemikian luas, canggih,
dan terbukanya ruang yang tersedia, maka kita seperti tidak berdaya.
Satu
saja TIP dari penulis; bahwa bagaimanapun hebatnya, Gadget adalah sebuah benda.
Alat. Instrumen semata. Kita bisa menyebutnya sebagai alat yang PINTAR (smart phone misalnya), tapi yang jelas
alat itu tidak memiliki KECERDASAN. Kecerdasan hanya dimiliki manusia sebagai
ciptaan tertinggi dan termulia dari Tuhan (Kejadian 1: 27) Maka, marilah kita cerdas menggunakannya.
If You can’t be a master, You will be
mastered (as a slave!) Jika kamu
tidak mampu - dengan cerdas - mengendalikannya, maka kamu akan menjadi
budaknya!!
(Psj-015)
Si Medsos nan Canggih
“Berprestasi dengan Gadget;
Pengaruh
Penggunaan Medsos dalam Prestasi
Belajar”
Dilatarbelakangi oleh euforia
penggunaan gadget dan keterlibatan dalam media sosial secara massif, perlu
kiranya kita merenungkan satu pertanyaan berikut sejenak. “Bagaimana kita menyikapi kehadiran alat-alat komunikasi serba canggih yang
ada di genggaman anak-anak kita?” Pertanyaan ini biasa-biasa saja
sebenarnya, namun karena adanya kegamangan pada orang tua maka kata “menyikapi”
menjadi suatu hal yang serius. Perselancaran di dunia maya sudah menjadi
keseharian dari anak-anak usia remaja ke atas. Masalah akan muncul saat kita
berbicara tentang konten dari
perselancaran tersebut (baca: internet, berbagai fitur di dalamnya)
Seksi Pendidikan sebagai salah satu badan
pekerja dalam struktur kepengurusan Dewan Pastoral Paroki Santa Maria Ratu
Rosari terpanggil untuk mengupas fenomena ini ke permukaan. Melalui kegiatan
seminar sehari; yang diselenggarakan pada hari Minggu, tanggal 17 Mei 2015 mulai
jam 11.00 hingga jam 16.15, bertempat di aula gereja paroki, dihadiri oleh 181
peserta dari unsur-unsur AREKA dan OMK se-paroki, yakni terdiri atas 20
lingkungan Gereja Paroki serta utusan dari 6 Stasi (Stasi Sei Beraskata, Sri
Gunting, Suka Maju, Gunung Tinggi, Belimbingan, dan Serba Jadi)
Key-note speaker, Dra. Aprilia Fajar Pratiwi, M.Si
(Psikolog) memberi pencerahan melalui paparan terkait topik seminar serta berupaya
mengeksplore kebiasaan para peserta dalam
penggunaan gedget melalui diskusi kelompok serta kegiatan praktis lainnya yang
sungguh-sungguh menghidupkan suasana. Ramai, ceria, dan rileks, namun tanpa
kehilangan esensi dan tujuan kegiatan itu sendiri bagi kalangan muda. Beliau
juga menekankan agar peserta bersikap bijak dalam penggunaan media sosial.
Bahwa media sosial sebaiknya digunakan lebih kepada pendukung prestasi belajar;
bukan malah kehadirannya menurunkan prestasi belajar!
Ada beberapa catatan penting yang kita dapat rangkum dari
hasil diskusi 8 kelompok peserta seminar; yakni bahwa para remaja dan OMK
menyadari bahwa medsos memiliki kebaikan dan keburukan terkait dengan status
mereka sebagai pelajar. Keburukannya yang paling mengemuka adalah; tersita waktu untuk belajar, menjadi individualis, menggunakan gedget
sebagai alat berbohong/curang dalam ujian, dlsb. Namun mereka
tetap saja terjebak dalam kebiasaan tidak baik yang mereka sudah sebut tadi
sebab gedget selalu ada dalam genggaman!
Acara seminar mendapat dukungan penuh dari pastor Paroki
serta ketua dan sekretaris Dewan Pastoral Paroki Santa Maria dan OMK paroki
sebagai panitia. Perhatian penuh terhadap para remaja dan orang muda Katolik
memang diperlukan dan kepedulian pengurus gereja dan orang tua seperti itu
direspon positip oleh para generasi muda gereja dengan atensi, kesungguhan dan
keseriusan mengikuti acara-demi acara hingga selesai dan ditutup oleh Bapak
Pastor.
Moga-moga upaya pembekalan, penyertaan dan arahan menuju
hal-hal yang baik khususnya dalam hal cerdas
dalam menggunakan gadget dan media sosial akan berbuah kebaikan. Amin.
(psj/2015)
Langganan:
Postingan (Atom)